Minggu, 01 Januari 2017
Review Temui Aku Di Surga
Judul Novel : Temui Aku di Surga
Penulis : Ella Sofa
Penerbit : Quanta, Imprint dari Elex Media Komputindo (Grup Kompas Gramedia)
Tebal buku : 228 hal.
Harga Buku : Rp. 44.800,-
Sinopsis :
Malik dan Yudho, dua pemuda sebaya dan nyaris serupa fisiknya. Namun, nasib dan takdir mereka jelas berbeda. Malik, putra bungsu sebuah keluarga berada di Desa Randuasri. Sementara Yudho, pemuda cemerlang yang tak bisa melanjutkan sekolah karena kemiskinan keluarganya, dan harus berjuang agar bisa mandiri dan membantu kehidupan orang tuanya. Jalinan nasib akhirnya mempertemukan mereka berdua. Bersahabat karib, bahkan seperti dua saudara. Tetapi, tiba-tiba saja mereka harus terpisah. Sisa-sisa masa lalu Malik yang kelam membuatnya sekali lagi harus terperosok dalam bahaya, dan berakhir dengan kematiannya. Yudho dan keluarga Malik terpuruk!
Tapi hidup harus terus bergulir. Yudho mendapat tawaran untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Ia menemukan banyak kejanggalan dan hambatan. Bahkan ia melihat dalang dibalik kecelakaan yang dialami sahabatnya, Malik. Apakah yang terjadi selanjutnya dengan hidup Yudho? Berhasilkah ia menjadi kepala desa? Mampukah ia menahan gejolak hatinya yang ternyata diam-diam menaruh rasa pada seorang gadis yang dulu dikagumi Malik? Ella Sofa mampu mengemas semuanya dengan manis. Novel yang berkisah tentang pemilihan kepala desa di Jepara ini dibaluri intrik yang menegangkan. Namun ditutup dengan akhir yang indah dan dalam. Temui Aku di Surga, sebuah janji yang terpatri di hati Yudho
Review :
Kisah ini memang seputar persahabatan. Namun yang ingin saya tonjolkan adalah konflik utamanya. Yaitu kematian Malik dan pemilihan kepala desa. Jujur, saya jarang membaca konflik seputar dunia politik. Berita di televisi saja jarang. Karena itu ketika membaca sinopsisnya saya tertarik.
Kebetulan penulisnya sendiri mengadakan giveaway novel ini. Dan saya beruntung, menjadi salah satu pemenangnya. Alhamdulillah ^_^
Berawal dari persahabatan kemudian menjadi saudara. Yudho dan Malik hampir mirip secara fisik. Hanya nasib yang berbeda. Malik terlahhir di keluarga kaya, sedangkan Yudho dari keleuarga kurang mampu. Namun mereka bisa saling melengkapi, saling mendukung. Hubungan keduanya sudah bisa disebut saudara.
Awalnya Yudho hanyalah seorang pemasangan kaca pada Solikin. Janjinya untuk menaikan gaji Yudho tak kunjung dipenuhi. Dan Malik pun memiliki modal tetapi tidak memiliki usaha. Jadilah mereka kerja sama. walaupun Malik berstatus sebagai pemilik modal, dia bersedia untuk menjadi anak buah Yudho untuk belajar memasang kaca. Usaha mereka pun berjalan perlahan.
Nggak lengkap donk sebuah novel tanpa ada bumbu-bumbu asmaranya? :P
Yup, di sini Malik menaruh hati pada salah satu temannya di Pesantren. Namun Hesti adalah seorang hafodzah, sangat menjaga ketat pergaulannya dengan lelaki. Tidak bisa sembarang menjalin kasih. Lantas apakah usaha Malik untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya?
Keganjilan kebijkan oleh kepala desa yang lama, memberikan inisiatif baru pada Malik, untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa. Tentu saja didukung penuh Yudho dan Ayah Malik. Namun malang sekali, hidup Malik hanya sebentar. Sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Hingga Yudho diminta untuk menggantikannya. Uang dan kekuasaan bisa menjadi masalah yang berarti pada kehidupan seseorang. Yudho dihadapkan pada hal-hal yang menurutnya 'kotor' untuk dilakukan. Apakah Yudho pun juga akan menggunakannya untuk memenangkan pemilihan itu? Hehe, baca sendiri ya.
Sayangnya menurut saya bagian pencalonan desa ada yang kurang. Yaitu masa kampanye. Bagaimana para calon-calon ini menggali massa. Atau mungkin bisa dipaparkan program-program unggulan dari keduanya. Sehingga pembaca benar-benar berada di suasana panas tersebut. Kemudian yang mengganjal adalah penggunaan kata "Kiri". Pada halaman 129, disebutkan bahwa "Kiri" adalah istilah orang Jepara untuk menghentikan kendaraan umum. Hal ini saya rasa kurang tepat mengingat istilah "kiri" sudah umum dipakai untuk mengartikan berhenti ketika naik kendaraan umum.
Di dunia ini, tak mungkin lagi kau genggam tanganku
Merengkuh bahuku ‘
Tertawa bersamaku
Maka doakanlah, di surga kelak aku berada
Kutunggu kau di sana
Usah gelisah gelayuti jiwa
Hanya satu janji saja,
Temui aku di surga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar