Minggu, 01 Januari 2017

Review Setiap Kota Punya Cerita : ROMA


Judul : ROMA
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit : Gagas Media
Tahun : 2013
Tebal : x + 374 halaman
Isbn : 979 780 614 9






Sinopsis :

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.  

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR



Review :
Ini adalah novel Robin Wijaya yang saya baca.Beberapa informasi yang saya baca, novel ini adalah seri dari 'Setiap Tempat Punya Cerita'.

Langsung saja ya, nama Robin Wijaya sudah tak asing bagi saya. Walaupun novel ROMA adalah karya novel yang pertama saya baca, saya pernah membaca tulisannya di ibuku adalah...

Cover ROMA didominasi warna orange, warna senja. Dan di samping kanannya terdapat stempel 'Setiap Tempat Punya Cerita' cantik sekali. Minimalis sih, tetapi tetap unik. Dan ada gambar bangunan, hehe saya tidak tahu apa namanya.

Novel ini bercerita tentang Leonardo, pelukis muda dari Indonesia yang berhasil ikut pameran di Itali. Karyanya yang manis telah membawanya pada Fransesco, yang memboyongnya ke Roma.  Namun dari sekian banyak karya Leo, ada satu karya yang tak boleh dijual. Karya yang sangat berharga untuknya.

Namun suatu insiden terjadi lukisan Tidek Siten karya Leonardo yang telah dibeli oleh seseorang tidak sampai pada tempatnya. Rupanya Felice telah salah memberikan kartu nama, hingga lukisan itupun terkirim ke alamat yang salah. Sikap Felice yang ketus sempat membuat suansa di sana panas. Tetapi untungnya lukisan itu pun kembali.

Disitulah awal pertemuan Felice dan Leonardo. Leonardo memang sedikit kesal dengan sikap Felice. Tetapi akhirnya mereka dihubungkan dengan satu lukisan. Hee...

Alur ceritanya bisa dibilang lambat. Ada beberapa informasi yang baru saya dapatkan di halaman-halaman tengah. Beberapa adegan ringan tetapi tetap menimbulkan kesan romantis. Juga ada empat kota yang menjadi setting novel ini. Yaitu Roma, Denpasar, Napoli dan Venesia. Robin Mendiskripsikan tiap tempat begitu istimewa, sehingga saya bisa membayangkan seperti apa di sana. Keren!

"Seperti hari telah dihuni waktu yang berulang. Cinta akan berawal dan berakhir di tempat yang sama."
Sebelumnya Leonardo sedang menjalin hubungan dengan Marla. Sedangkan Felice sendiri bersama seorang atlet sepak bola walaupun perjalanannya tidak mulus.

Sebenarnya saya tidak suka dengan sikap Leonardo yang setengah-setengah. Bikin gemes, lebih mengatakan dengan tegas apa yang dirasakannya. Bukan orang lain yang harus memutuskan seperti apa hubungannya. Hei, dia cowok kan?

Sayangnya kadang karena terlalu takut untuk jujur justru harus membawa luka yang lebih dalam. Pada Felice dan Marla. Dan tokoh baiknya, Marla pun harus mengerti di mana posisinya. >.<

Namun kisah ini pun ditutup manis. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar