Minggu, 01 Januari 2017

Review A Little Princess


Judul : A Little Princess
Penulis : Frances Hodgson Burnet
Penerbit : Atria
Tahun : April 2010
Tebal : 339 halaman







Sinopsis :
Sara Crew dikirim dari India untuk bersekolah di sekolah Asrama Nona Minchin di London. Ayahnya Kapten Crewe, luar biasa kaya dan membelikan Sara gaun-gaun yang indah serta meminta agar anaknya diberi fasilitas mewah di sekolah itu.
Meski selalu dimanja dan bergemlimangan harta, Sara adalah anak yang cerdas, sopan, dan murah hati. Beberapa siswa yang lebih tua cemburu pada keberuntungan Sara dan mengejek dengan memberinya julukan 'PUTRI SARA' mengacu pada kekayaan dan sikapnya yang sempurna. Tetapi dia justru lebih menjadikan hal itu sebagai pengingat untuk bermurah hati kepada orang lain.
Kemudian, Kapten Crewe meninggal dan kekayaannya habis. Keadaan bagai terbalik 180 derajat bagi Sara. Tetapi karakternya yang kuat mebuatnya mampu bertahan menghadapai kemiskinan yang tiba-tiba dan penghinaan dari teman-temannya.

Review :

A Little Princess, novel yang menarik. Saya meminjamnya dari salah satu sanggar baca di Bojonegoro. Hehe~

Novel ini berkisah tentang seorang anak berumur tujuh tahun. Walaupun tokohnya anak-anak, kisah ini cukup menarik untuk dibaca oleh remaja ataupun dewasa. Yup, Sara adalah seroang anak yang orangtuanya bisa dibilang kaya raya. Mereka tinggal di India. Ibunya meninggal setelah melahirkan Sara. Sara hanya hidup berdua dengan ayahnya, Kapten Crewe. Tak memiliki saudara lain.

Ada dua hal yang paling disukai oleh Sara, yaitu membaca buku dan bercerita tentang khayalannya. Namun pada usinya menginjak tujuh tahun. Ayahnya mengirimnya ke sekolah asrama di London. Sebanarnya ayahnya tak tega, tetapi hal ini demi kebaikan Sara juga, maka dia harus melakukannya. Sara sendiri, sangat menyayangi ayahnya. Baginya hanya ayahnya lah harta yang paling berharga.

Sara bukan anak yang manja. Walaupun segala hal bisa dia dapatkan hanya dengan meminta. Sebelum resmi mejadi murid asrama. Sara dan ayahnya pergi mencari Emiliy. Emily adalah boneka yang akan menemani Sara di asrama.

Sara suka sekali bercerita tentang ayahnya pada Emily. Sara percaya bahwa Emily bisa bergerak dan hidup seperti manusia pada umumnya. Kebanyakan dari temannya sering mengejeknya seperti seorang putri. Karena Sara selalu bisa mengontrol emosinya dengan baik. Termasuk saat mendengar kematian Ayahnya.

Nona Minchin sangat marah terhadap Sara, karena ayahnya tak meninggalkan uang sepeser pun. Pesta ulang tahun Sara dan barang-barang lainnya menggunakan uang pribadinya sendiri. Akhirnya Nona Minchin memperkerjakan Sara sebagai buruh bersih-bersih.

Kehidupan Sara sangatlah berat, dia harus tidur di loteng, tugas yang bejibun, makanan yang sedikit, dan teman-teman lamanya pun menjauh.

Hanya ada satu hal yang membuat Sara kuat menjalani kehidupan barunya ini. Sara selalu berpura-pura atau berimajinasi bahwa tempat yang ditempatinya tidaklah seburuk itu.  Dan ketika kesedihannya memuncak, kepada Emililah dia mencurahkan semua keluh kesahnya. Sara tak ingin seornag pun tahu apa yang ada di dalam hatinya. Karena dia sadar, bila dia terlihat lemah dia akan semakin disiksa.

Sara hanya berharap kehidupannya jauh lebih baik dari sekarang. Dan beberapa kali keajaiban pun terjadi. Setiap kali dia membuka mata, dia menemukan selimut, baju dan beberapa makanan yang enak. Tentu saja itu bukan khayalan, walaupun Sara setiap saat memimpikannya.

Siapakah yang telah berbaik hati pada Sara?

Keajaiban seringkali terjadi tanpa disadari. Keinginan dan khayalan pun demikian. Tanpa terduga, mengalami hal yang baru saja atau telah lama kita pikirkan. Sara tak pernah menyangka hidupnya akan seperti dongeng-dongeng yang ia ceritakan pada teman-temannya. Menjadi sebatang kara dan pengemis. Namun siapa tahu, setelah itu dia menemukan harta yang lebih berharga. Kehidupan memang selalu menjadi misteri. Tetapi dengan sikap yang bijak, seperti apapun itu warnanya, kita bisa mengatasinya. We never alone. God always with us. :)

1 komentar: