Minggu, 01 Januari 2017

Review A Golden Web : Dokter Bedah Perempuan Pertama



Judul : A Golden Web
Penulis : Barbara Quick
Penerbit : Atria
Tahun : Maret, 2011
ISBN : 978-979-024-472-6






Sinopsis :
Alessandra Giliani adalah seorang remaja berotak cemerlang. Kecintaannya terhadap literatur dan ilmu pengetahuan sangat besar. Sayangnya, dia seorang perempuan. Pada masa itu, kaum perempuan terhormat tidak berhak menjadi apa pun selain menjadi ibu rumah tangga atau biarawati.

Didorong oleh hasrat dan tekadnya yang sangat kuat, dia menempuh perjalanan berbahaya ke Bologna, untuk mewujudkan cita-citanya belajar ilmu kedokteran—meskipun harus menempuh bahaya dan menyamar sebagai seorang pemuda!

Dalam penyamaran di kota yang penuh mata-mata dan kaum cendekia itu, Alessandra menemukan cinta yang tidak pernah dia sangka-sangka. Meskipun aturan dan anggapan umum dalam masyarakat saat itu merendahkan kaumnya, dia berhasil membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama bahkan terkadang melebihi kapasitas yang dimiliki kaum lelaki.

Dalam penggambaran hebat dari kisah yang sudah berusia berabad-abad tentang Alessandra Giliani, ahli anatomi perempuan pertama di dunia, penulis memberikan drama, romansa, dan detail sejarah yang kaya kepada para pembacanya mengenai tokoh utama perempuan yang tidak terlupakan—dan tidak dapat dilupakan.






Review :
Membaca sejarah tentang perjuangan para perempuan untuk mencapai kesetaraan gender memang tak pernah habis. Bukan hanya RA Kartini saja, namun di belahan dunia manapun, banyak kisah-kisah yang layak untuk diketahui dan diambil manfaatnya.

Salah satunya adalah kisah Alessandra Giliani, seorang ahli bedah anatomi perempuan pertama di dunia. Pada abad ke empat belas, kesempatan bagi perempuan untuk menjadi cendekiawan sangat mustahil. Untuk bersekolah saja sulit, memiliki pengetahuan yang lebih menonjol dianggap sebagi seorang penyihir. Bahkan hukuman yang tragis buat para penyihir adalah dibakar.

Alessandra terlahir di keluarga yang cukup terpandang, Ayahnya adalah pengusaha percetakan sehingga memiliki banyak buku yang bisa dikoleksi. Buku-buku inilah yang membawa Alessandra Giliani pada indah dan menggairahkannya pengetahuan dunia.

Pada malam hari, Alessandra biasa memasuki gudang penyimpanan barang sambil membawa lilin untuk merenung. Di dalam gudang itu, dia menciumi aroma yang menempel pada gaun dan pakaian sehari-hari milik ibu kandungnya.  Namun suatu hari, Alessandra membuka peti baju bekas kakaknya. Dia memilah mana yang cukup dipakai olehnya.

Dengan pakaian milik kakaknya, Nicco, Alessandra menyamar menjadi anak laki-laki dan melakukan eksperimen-eksperiman di sekitar rumahnya. Alessandra sudah jenuh dengan perpustakaan terbaik di kotanya, yaitu rumahnya sendiri, dan dia hendak mencari tempat lain.
"Ah, ruang belajar ini tidak dipenuhi buku, tapi oleh keajaiban Alam dengan kelahiran, pertumbuhan, kematian, dan pembusukan, beragam tanaman dan makhluk, tanah, air, dan angkasa." (halaman 80)

Alessandra sering mendapat hukuman dari ibu tirinya karena tindakannya yang tidak mirip seperti anak perempuan. Walaupun demikian, Alessandra tak pernah kapok untuk menikmati alam dengan caranya sendiri.

Pada saat usianya sudah cukup untuk menikah, Alessandra menghadapi pilihan tersulit. Dia memilih untuk pergi ke Bologna untuk menjadi mahasiswa. Dengan bantuan kakak tersayangnya, Nicco, dia bisa kabur dari gereje tempat dia dipingit.

Alessandra bersama Emilia, pelayannya, menyamar menjadi lelaki. Alessandra dengan nama Sandro dan Emilia dengan nama Emilio. Kehidupan kampus yang menyenangkan tidak membuat Alessandra lupa bahwa ia telah melakukan dosa besar. Di dalam gereja dia terus saja berlutut dan memohon ampun, serta bertanya-tanya.

Mengapa Tuhan memberinya hasrat dan benak yang selalu bertanya-tanya jika Tuhan tidak menghendaki dia menggunakannya? Mengapa dunia dan seluruh Alam terhampar bagaikan sebuah buku terbuka, menunggu untuk dibaca dan dipahami, jika sang Pencipta tidak menginginkannya mengungkap rahasia-rahasia dan memahami kebijaksanaan di dalamnya?

Alessandra memiliki banyak keberuntungan. Diantaranya, kecerdasan, keluarga dan pasangan hidupnya. Dia bisa menjalani kehidupannya sebagai Sandro, seorang ahli bedah. Namun akhir kisahnya memang belum berakhir indah.

Kelebihan buku ini adalah, saat membaca buku ini, seperti membaca kisah-kisah yang benar-benar terjadi. Namun Barbara Quick, penulis buku A Golden Web ini menjelasakan dalam catatan di akhir buku ini, bahwa kisah Alessandra Guilani adalah kisah campuran antara sejarah, fiksi, dan romance. Dia berusaha mengumpulkan sedetail mungkin catatan yang berhubungan Alessandra dan keluarganya, adat istiadat masyarakat saat abad ke empat belas, serta guci-guci berisi kisah Alessandra.

Pada akhirnya novel ini sangat menarik untuk dibaca. Karakter Alessandra yang begitu kuat, pantang menyerah dan penuh kasih sayang ini begitu menginspirasi. Supaya kita melihat bagaimana, perempuan-perempuan zaman dulu harus memutar otak untuk mendapatkan ilmu. Entah itu lewat penyamaran atau hanya berdiam diri di perpustakaan. Sedangkan kita, bisa mendapatkan pendidikan tanpa penolakan terhadap gender, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar